Kamis, 11 Oktober 2012


Menjadikan Pergaulan sebagai Komunitas Belajar

KOMPAS.com - Seorang lulusan universitas terkenal yang direkrut lima tahun lalu, dinyatakan tidak lulus ketika menjalankan evaluasi sebagai supervisor saja. Fakta ini membuat orang tersadar bahwa setelah mulai bekerja, yang bersangkutan tidak menambah ketrampilan dan pengetahuannya, baik itu mengenai cara berorganisasi yang lebih baik, cara mengenal orang lain, cara mengawasi anak buah, dan masih banyak hal lain yang sebenarnya ada di depan mata. Ia bukan tidak dikirim ke berbagai pelatihan. Namun, apa yang dipelajari dalam pelatihan kemudian tidak berbekas pada kebiasaan, tingkah laku, dan ketrampilannya.
Bila kasus seperti ini terjadi pada 50-60 persen orang di perusahaan, dapat dikatakan bahwa "proses belajar" atau pembentukan learning organization di suatu perusahaan mengalami stuck. Inilah realitas betapa mengembangkan budaya belajar merupakan tantangan nyata.  Banyak sekali hal yang ada di depan mata, namun tidak terlihat, terlupakan, atau tidak pernah dipraktekkan.

Banyak pimpinan mengeluhkan sulitnya mengubah kebiasaan dan menambah wawasan karyawan, seolah-olah kemampuan belajarnya tidak ada. Hal yang kerap dijadikan alasan mandeknya belajar adalah sibuknya melakukan kegiatan operasional atau memang tidak berminat. Upaya perusahaan untuk mengembangkan ketrampilan servis, mendengar, atau juga menjaga compliance kerap dilakukan sampai membuat poster "dos and don’ts” di setiap sudut kantor, namun ini pun belum tentu mempan.
Jadi, kalau ada perusahaan mengklaim bahwa mereka adalah learning organization, perusahaan ini tentu sudah melakukan upaya atau kebiasaan yang sangat istimewa, karena banyak lembaga lain yang sama sekali tidak berhasil mengembangkan situasi ini, bahkan tidak menemukan clue bagaimana melakukannya.

Di tengah maraknya kritik dan komentar bahwa pengajaran di sekolah “tidak seperti dulu”, bahkan “salah arah”, sebaliknya kita juga melihat betapa terobosan belajar tumbuh subur. Cara belajar yang “canggih”, di mana murid atau karyawan diberi kesempatan bereksperimen, berpresentasi, berdiskusi, bertanya pun bertebaran. Kita juga melihat munculnya komunitas belajar gratis yang banyak sekali diminati, bahkan di komunitas ini para peserta rela berpanas-panas atau duduk di lantai mempelajari sesuatu. Ini tentu gejala positif dan adalah bukti betapa kita sebetulnya “haus” untuk mengembangkan diri, memperkuat expertise, serta mengembangkan budaya belajar.

Revolusi belajar
Dalam bukunya The learning Revolution, Gordon Dryden dan Dr Jeannette Vos mengungkapkan bahwa perkembangan cara berkomunikasi dan teknologi sudah demikian pesat. Tengok bagaimana cara komunikasi kita yang beralih dari telepon menjadi lebih menggunakan teks, yaitu ber-SMS ataupun menggunakan instant messenger. Kita pun, dengan bantuan teknologi, kini bisa menguasai bahasa asing dalam hitungan bulan, tidak usah lagi bertahun-tahun.
Di era teknologi ini, belajar bisa dengan waktu yang fleksibel karena bisa dilakukan secara e-learning, menggunakan e-book, dan diuji secara e-assessment. Dunia seolah tidak berbatas, bahkan kita bisa mengatakan bahwa dunia sudah dibanjiri oleh informasi dan produk-produk yang dapat kita gunakan untuk belajar.
Namun demikian, kita juga sangat sadar bahwa memiliki akses ke informasi tidak berarti proses penyerapan ilmu baru lebih mudah. Tetap saja ada tantangan pada bagaimana individu akan memproses informasi yang diperoleh agar dapat memperkaya wawasan dan terjadi proses belajar efektif. Kita juga perlu ingat bahwa banjirnya informasi bisa menimbulkan distraksi atau gangguan terhadap proses pemahaman individu. Itu sebabnya mantra belajar yang klasik: “Make it Matter. Make it Simple. Make it Stick” tetap berlaku dalam revolusi belajar ini.

Prinsip belajar yang juga kita perlu pahami adalah proses belajar bersifat individual. Kita sendiri bisa membedakan antara kecepatan dan efektivitas mempelajari sesuatu yang menarik dan yang tidak menarik. Orang akan menyerap dan mempraktekkan apa yang baru dipelajarinya bila ia merasa bahwa apa yang dipelajarinya itu "berarti". Ini sebabnya maka ada ahli yang mendalami "experiential learning" di mana individu menemukan sendiri makna dan "aha" dalam pengalamannya, sehingga ia bisa menceriterakan kembali, bahkan mengotak-atik konsep ini dalam pemikiran dan perbuatannya.

Komunitas: Instruktur yang paling andal
Tentu kita pernah mendengar diskusi seru seperti ini: “Nih, lihat nih”, Oh begini nih...”, “Ternyata yang dimaksud itu...”, “Sudah mengerti, belum?”. Bisa dipastikan individu yang terlibat pembicaraan ini merasakan keasikan belajar. Kita bisa menyebutnya sebagai situasi “learning by not learning”.
Ini bukan hal baru, karena sejak  beribu-ribu tahun yang lalu, orang sudah menyadari bahwa mempelajari sesuatu dari teman atau orang-orang yang kita sukai lebih mudah daripada belajar dari seorang "guru", apalagi bila diajarkan secara satu arah. Efektivitas “peer teaching” ini, walaupun bukan penemuan baru, memang terlihat lebih nyata daripada sistem pengajaran lain.

Jika ingin belajar efektif, pertama-tama kita perlu menebarkan paradigma bahwa kita belum tahu banyak. Pikiran kita masih terisi setengah, masih perlu menyerap hal-hal lain. Pemikiran seperti ini memungkinkan kita membentuk kebiasaan bertanya, mengeksplorasi, berdiskusi bahkan berdebat, dan pada akhirnya belajar sesuatu.
Kita pun perlu berusaha membasmi kebiasaan defensif yang nyata-nyata gejala menutup diri. Individu yang bersikap defensif seperti ini perlu ditegur dan disadarkan bahwa ia defensif. Bahkan, kita perlu mengembangkan sikap positif terhadap kesalahan dan selalu berpikir bahwa pengalaman, walaupun buruk, adalah media belajar yang baik bagi anggota kelompok. Dengan terbentuknya suasana seperti ini, program belajar menjadi murah meriah, karena individu-individunyalah yang akan mencari dan mengusulkan kepada kita, apa yang ingin ia pelajari.

Revolusi Teknologi Hadirkan Media Online

 

 Malang - Kemajuan teknologi mengantar lahirnya media online sebagai wajah baru media massa. Banyaknya masyarakat memiliki alat komunikasi berbasis internet memudahkan mereka mengakses media online.

"Revolusi teknologi membawa hadirnya media online," terang Budi Hartadi dalam Seminar Nasional Persaingan Media Massa dan Media Online di Gedung Graha Medika Universitas Brawijaya, Minggu (23/9/2012).

Koordinator liputan detiksurabaya.com ini menguraikan media online pertama hadir di tanah air di era 97, dan detik.com baru menyajikan berita kepada pembaca setahun berikutnya.

"Di situ mulailah pembaca dapat menerima informasi melalui internet. Meski kondisi saat itu kesediaan akses internet minim sekali," ujar Budi di hadapan peserta seminar.

Menurut Budi, media online memiliki keuntungan di sisi kecepatan dalam menyampaikan informasi, dibanding dengan media cetak. Peristiwa atau informasi apapun bisa segera disajikan sebagai berita secepat mungkin.

"Ketika kita dapat informasi bisa langsung disajikan dalam berita tanpa terkendala kondisi tempat," tutur Budi.

Namun demikian, derasnya perkembangan media online memaksa pemilik media harus menjaga eksistensinya. Untuk menata gaya atau ciri khas yang dimiliki menuruti kemauan pembaca. "Banyak yang sudah jatuh karena persaingan," sambung Budi.

Sementara bagi media cetak perkembangan teknologi justru memberikan kreasi baru bagi mereka, untuk menyajikan sebuah informasi baru kepada masyarakat.

"Kita harus banyak kreasi dan inovasi, untuk menjaga minat pembaca," terang Redaktur Pelaksana Radar Malang Ilham Aziz.

Ia mencontohkan, Jawa Pos memberikan sajian khusus untuk kalangan tertentu, seperti bisnis ataupun komunitas. "Inovasi itu penting, di sisi lain kita akomodir aset informasi yang ada," ucap Aziz.

Menurut dia, media cetak masih memiliki cukup banyak pembaca dan dibutuhkan di negara Asia. Hal itu berbeda dengan di negara Eropa, yang telah banyak media cetak gulung tikar.

"Media cetak masih dibutuhkan, tinggal kita harus teliti dan cermat menjaga eksistensi pembaca," tutur Aziz.

Teknologi Informasi dan Komunikasi Ciptakan Revolusi Dalam Belajar

BANDUNG, (PRLM).- Ternologi informasi dan komunikasi telah menciptakan terjadinya revolusi dalam belajar. Tidak harus belajar tatap muka di kelas karena sudah ada teknologi hologram sehingga seakan-akan kuliah tatap muka langsung.
"Dengan teknologi hologram kita bisa melihat secara jelas guru atau dosen di depan meja komputer. Hal itu disebabkan suara maupun gambar tiga dimensinya amat jelas," kata Direktur Seamolec, Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjanto, dalam orasi ilmiah wisuda STMIK AMIK Bandung, di Hotel Horison, Sabtu (15/9/12).
Lebih jauh Gatot mengatakan, sekolah maupun universitas akan berubah fungsi dengan cepat di masa mendatang. "Dengan teknologi informasi memudahkan adaptasi ilmu dan mengombinasikannya dengan cepat. Tentu siswa/mahasiswa maupun guru dituntut untuk terus belajar," katanya.
Khusus mahasiswa yang kuliah di program teknologi informasi, Gatot menyarankan agar menguasai bahasa asing, seperti Bahasa Inggris atau China. "Kuasai juga game android dan game JENI karena dibutuhkan pasar," katanya. (A-71/A-89)

TIK Pendidikan Bermanfaat di Daerah




DENGAN memanfaatkan teknologi yang maksimal dapat menunjang dunia pendidikan dan berdampak pada memudahkan proses belajar mengajar itu sendiri. Hal ini dikemukakan oleh Kadisdik provinsi Kalbar, Drs Akim MM rampung pembukaan Anugerah Kihajar (Kita Harus Belajar) Award yang diselenggarakan di Asrama Haji Pontianak, Kamis (27/9).Malah, kemampuan teknologi seperti belajar melalui internet dan televise pendidikan akan sangat bermanfaat khususnya di daerah-daerah pedalaman dan perbatasan yang selama ini selalu saja kekurangan tenaga pengajar.

‘’Kita akui bahwa itu kelemahan yang harus ditingkatkan di masa mendatang. Tetapi, di tengah keterbatasan tersebut kita pantang menyerah. Ada banyak cara menyiasatinya, salah satunya dengan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) untuk pendidikan ini,’’ kata Akim kepada wartawan.Anugerah Kihajar ini sendiri menurutnya baru pertama kalinya diselenggarakan di Kalbar. Pihaknya merasa senang dengan adanya pelaksanakaan tersebut. Bisa dibilang, ini adalah seleksi daerah untuk ke Anugerah di tingkat Jakarta, 6-9 November mendatang. Namun, untuk kali pertama, yang disertakan baru dua kabupaten dan kota. Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak.

Ditegaskan Akim, TIK ini akan sangat bermanfaat. Dengan catatan, mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan di Kalbar ini berusaha semaksimal mungkin untuk menguasai dan menerapkannya.‘’Di daerah-daerah kan masih minim guru. Bantuannya salah satunya dengan adanya TIK ini,’’ kata Akim lagi. Sementara, panitia Anugerah Kihajar dari Pusat, yakni Drs Abu Khaer Mpd (BPMTV Surabaya) mengatakan Festival e-Pendidikan Piala Kihajar merupakan suatu kegiatan terpadu, terdiri dari 5 rangkaian kegiatan yang saling sinergi dan terkait satu sama lain.

Rangkaian kegiatan tersebut masing-masing Anugerah TIK untuk Pendidikan, Lomba Pengembangan Media Pembelajaran, Kuis TV Edukasi (Kihajar) dan seminar serta  pameran. Peserta kegiatan adalah siswa, guru, sekolah, dan lembaga baik di bawah kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementrian AgamaSecara umum tujuan Festival e-pendidikan Piala Kihajar adalah untuk menumbuhkan budaya pengembangan dan pendayagunaan TIK untuk pendidikan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan TIK serta menumbuhkan budaya belajar dan berkompetisi untuk meraih pendidikan yang maksimal.

‘’Juga ada kegiatan kompetisi dalam pembuatan media pembelajaran yang berbasis TIK meliputi audio, video, animasi, simulasi, presentasi, dan multimedia, bagi siswa dan guru (sekolah), serta umum,’’ kata Abu Khaer. Sedang mengenai Kuis Kihajar Adalah lomba menjawab soal secara berjenjang mulai dari kuis harian, mingguan, bulanan, regional, dan nasional yang materinya disiarkan melalui TV EdukasiUntuk seminar adalah kegiatan berbagi pengetahuan, pengalaman, model/contoh penerapan terbaik dan atau temuan terkini terkait dengan pendayagunaan TIK untuk kepentingan pendidikan yang disampaikan oleh pakar, akademisi, maupun praktisi dalam bidangnya masing-masing.  

Sedangkan pameran dimaksudkan kegiatan mempertunjukkan hasil penelitian, pengembangan, maupun praktek terbaik terkait dengan pendayagunaan TIK untuk kepentingan pendidikan yang disampaikan oleh individu maupun kelompok (lembaga).Kihajar Award adalah ajang kompetisi untuk menjaring siswa SD/MI,SMP/MTs,SMA/SMK/MA yang berpotensi di seluruh Indonesia melalui siaran TV Edukasi. (ing)

Microsoft: Indonesia Perlu Ubah Kebijakan Teknologi Secara Radikal

 

 

Setiap pengambil kebijakan harus mengerti tentang perubahan teknologi yang terjadi, bagaimana hal itu berubah, kemana arahnya dan seberapa cepat.
JAKARTA, Jaringnews.com - Chief Research and Strategy Officer Microsoft Inc, Craig Mundie, mengatakan Indonesia perlu melakukan perubahan kebijakan teknologi nasional secara radikal untuk dapat bersaing dalam perubahan teknologi informasi global yang demikian cepat. Selain itu, perlu penerapan teknologi, informasi dan komunikasi secara intensif dan ekstensif sebagai upaya menjadikan Indonesia sebagai satu dari 10 negara di dunia dengan ekonomi terbesar di tahun 2025.

Hal itu disampaikan oleh Craig Mundie dalam ceramah dan presentasi lebih dari satu jam dalam sebuah diskusi bertema Unlocking Indonesia’s Digital Future yang diselenggarakan oleh Jurnal Ilmiah Strategic Review bekerjasama dengan PT Microsoft di Hotel Indonesia Kempinsky, Jakarta, hari ini (11/10). Turut hadir pada acara itu dan berbicara sebagai penanggap, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), M. Chatib Basri dan Pemimpin Redaksi Strategic Review, Hassan Wirajuda.

Menurut Mundie, setiap pengambil kebijakan tidak boleh menganggap enteng perubahan teknologi yang terjadi. Sambil Mundie memperagakan berbagai perubahan praktik kehidupan di masa mendatang yang dihela oleh kemajuan teknologi informasi, Mundie menegaskan bahwa setiap pengambil kebijakan harus mengerti tentang perubahan teknologi yang terjadi, bagaimana hal itu berubah, kemana arahnya dan seberapa cepat.

“Anda harus siap berkompetisi dalam perubahan teknologi informasi yang cepat.  Dalam perubahan yang cepat itu, banyak regulasi yang sudah tidak relevan dan harus diubah,” tutur Mundie, yang pada April 2009 lalu diangkat oleh Presiden Barack Obama sebagai anggota Dewan Penasihat Presiden AS untuk bidang ilmu dan teknologi (President’s Council of Advisors on Science and Technology)

Indonesia sebagai negara besar dengan jumlah penduduk 259 juta, menurut Mundie, mempunyai peluang yang besar untuk menuai kemajuan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Mundie kemudian memperagakan berbagai inovasi Microsoft dalam bidang pendidikan yang memungkinkan proses belajar mengajar dilakukan secara intensif dan ekstensif.

“Bayangkan jika melalui teknologi seorang guru dapat mengajar kepada lebih dari 50 ribu murid dalam waktu yang sama. Berapa banyak yang dapat Anda hemat,” tutur Mundie.

Menurut dia, Teknologi Informasi dan komunikasi bukan lagi hanya sebagai infrastruktur, tetapi juga merupakan pilar utama untuk penguatan industri kreatif. Ia akan menunjang transformasi Indonesia menuju perekonomian yang dihela oleh inovasi (innovation driven economy) dengan meningkatkan keunggulan kompetitid dan memperluas pengembangan ekonomi kreatif berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Siswa SMK Rakit 2500 Laptop dan Komputer

Oleh: Ester Lince Napitupulu

Hampir tiga tahun ini, 2.500 laptop, komputer, dan proyektor LCD dirakit siswa SMKN 3 Mataram. Hasilnya tersebar di sekolah-sekolah di wilayah itu. SMKN 3 Mataram juga menjadi pusat pelatihan untuk program peningkatan teknologi informasi dan komunikasi di bidang pendidikan dari pemerintah.

Dalam melaksanakan program pemerintah daerah, para siswa program keahlian teknik komputer jaringan merakit laptop, komputer, atau proyektor LCD. Barang-barang itu disalurkan pemerintah daerah ke sekolah-sekolah yang membutuhkan.

”Saya sudah merakit 100 laptop, komputer, dan proyektor LCD. Perlu 15-20 menit untuk merakit satu unit. Satu hari, siswa bisa menyelesaikan sampai 15 unit,” kata Dewi Prasetyo (16), siswa kelas XI teknik komputer jaringan.

Tidak hanya pemerintah daerah, Universitas Mataram juga minta sekolah merakit laptop untuk dibagikan di sekolah-sekolah daerah terpencil yang menjadi lokasi program kuliah kerja nyata mahasiswa. Demikian Kepala SMKN 3 Mataram Umar menuturkan.

Program perakitan laptop, komputer, dan proyektor LCD bekerja sama dengan perusahaan yang ditunjuk Direktorat SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak tahun 2010 hingga sekarang, siswa telah merakit komputer dan laptop Zyrex, Mugen, serta Rellion.

Bayu Pandu Wibisono, Kepala Laboratorium Multimedia SMKN 3 Mataram, mengatakan, para siswa tidak hanya diajarkan merakit. Mereka juga harus mampu memberikan layanan purnajual jika terjadi kerusakan pada hasil rakitan.

Tiap komputer, laptop, atau proyektor LCD diberi kode nomor seri siswa yang merakit. Jika terjadi kerusakan, siswa terkait yang bertugas mengecek dan memperbaiki.

SMKN 3 Mataram tidak hanya jago merakit. Sejak tahun 2002, sekolah juga ditunjuk untuk memberikan pelatihan bagi guru-guru SMK se-Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bidang pendidikan. Jika ada program baru yang diperkenalkan kepada guru dan penanggung jawab TIK di daerah, sekolah yang memiliki fasilitas laboratorium multimedia cukup lengkap ini ditunjuk memberikan pelatihan.

”Peminat untuk program keahlian TIK, baik teknik komputer jaringan maupun multimedia, sangat tinggi. Dari 1.800 siswa yang mendaftar, setengahnya mau ke program keahlian TIK,” kata Umar.

Berbasis produksi

Menurut Umar, keterbatasan pendanaan untuk praktik siswa membuat sekolah mengembangkan kebijakan praktik berbasis produksi. ”Sekolah mengajak guru di semua program keahlian untuk mengembangkan potensi unit produksi yang bernilai jual. Dengan cara ini, siswa bisa praktik dan hasilnya dijual. Sekolah tidak kebingungan mencari bahan praktik,” ujarnya.

Ia menambahkan, target pendapatan dari semua unit produksi tahun ini Rp 150 juta-Rp 200 juta.

Program teknik las sering menerima pesanan pagar terali besi dari masyarakat. Ada juga permintaan dari Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian Terpadu NTB untuk membuat mesin-mesin sederhana untuk usaha para petani.

Zulkarnaen, Ketua Program Keahilan Teknik Las SMKN 3 Mataram, menuturkan, sekolah sedang membuat empat jenis alat untuk meningkatkan produksi pelaku usaha kecil menengah di NTB. Alat-alat yang disiapkan adalah mesin pemotong kulit basah, mesin pemotong kulit kering, pengaduk abon, dan mesin pembuat emping jagung.

Di program keahlian teknik konstruksi kayu, unit produksi pembuatan perabot potensial. Sekolah ini digandeng perusahaan pemasok perabot untuk hotel atau vila yang terus bermunculan akibat perkembangan NTB sebagai tempat tujuan wisata asing dan domestik.

”Sayangnya, peminat untuk teknik konstruksi kayu masih kurang. Masyarakat berpikir hanya menjadi tukang. Padahal, permintaan tenaga kerja untuk perusahaan yang memproduksi furnitur kebutuhan hotel atau vila cukup banyak. Kami kewalahan menyediakan tenaga kerja,” kata Evie Hutabarat, Kepala Bengkel Teknik Konstruksi Kayu SMKN 3 Mataram.

Evie menyebutkan, ajakan kerja sama dari pengusaha asing sebenarnya ada. Sekolah sudah membuat enam rumah sistem knock down. ”Termasuk membuat rangka kayu untuk kapal,” ungkapnya.

Siswa program keahlian teknik survei dan pemetaan tidak kekurangan pekerjaan. Siswa biasanya direkrut menjadi juru ukur untuk badan pertanahan di daerah NTB. Alat-alat survei dan pemetaan sekolah sudah memakai global positioning system (GPS).

”Siswa didorong belajar untuk mempraktikkan kewirausahaan. Sekolah juga terus merangsang siswa untuk bisa berinisiatif mengembangkan usaha yang potensial. Sekolah menyediakan dana hingga Rp 10 juta untuk proposal kewirausahaan siswa yang potensial dikembangkan,” papar Umar.

Dengan berbagai pengembangan pendidikan berbasis produksi, SMKN 3 Mataram terpilih menjadi salah satu dari 90 SMK Sekolah Bertaraf Internasional Indonesian Vocational Education Strengthening (SBI Invest) di Indonesia.

Bekerja di Jepang


Siswa SMKN 3 Mataram diburu perusahaan-perusahaan di NTB dan luar NTB. Permintaan juga datang dari perusahaan-perusahaan di Jepang.

Menurut Umar, alumni SMKN 3 Mataram yang bekerja di Jepang dinilai memuaskan. Permintaan alumni untuk bekerja di bidang permesinan dan las cukup banyak setiap tahun, bisa mencapai 30-40 orang.

Sekolah hendak mengembangkan program penyiapan alumni ke Jepang secara serius. Dengan memanfaatkan Career Center SMKN 3 Mataram, ada rencana untuk bersama-sama alumni yang telah selesai magang di Jepang menyiapkan siswa yang potensial untuk bekerja di ”Negeri Sakura”.

”Beberapa waktu lalu, pihak dari Jepang juga datang ke sekolah untuk melihat fasilitas dan pembelajaran di sekolah,” kata Umar.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Reza Wahyudi

Cerita Cinta Mengharukan Sedih Banget

Andre dan Sherly adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga Sherly berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Andre hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.
Dalam kehidupan mereka berdua, Andre sangat mencintai Sherly. Andre telah melipat 1000 buah burung kertas untuk Sherly dan Sherly kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Andre telah menuliskan harapannya kepada Sherly. Banyak sekali harapan yang telah Andre ungkapkan kepada Sherly. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi Sherly dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada Sherly.
Suatu hari Andre melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Andre berkata kepada Sherly:
“Sherly, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “
Saat mendengar Andre berkata demikian, menangislah Sherly. Ia berkata kepada Andre:
“Ndre, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!”
Saat mendengar itu Andre pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada Sherly. Ia mengatai Sherly matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Dan Akhirnya Andre meninggalkan Sherly menangis seorang diri.
Andre mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap Sherly dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Andre menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Andre, ia adalah bintang kesuksesan.
Suatu hari Andre pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Andre pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua Sherly.
Andre mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Andre membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua Sherly.
Andre sangat terkejut ketika didapati orang tua Sherly memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto Sherly dalam makam itu. Andre pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam Sherly untuk menemui orang tua Sherly.
Orang tua Sherly pun berkata kepada Andre:
”Ndre, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Sherly yang terkena kanker rahim ganas. Sherly menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.”
Orang tua Sherly menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Andre.
Andre membaca surat itu.
“Ndre, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputus-asaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Ndre, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Ndree……….. “
Setelah membaca surat itu, menangislah Andre. Ia telah berprasangka terhadap Sherly begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati Sherly teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Sherly kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa Sherly mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap Sherly sebagai orang matre tak berperasan. Sherly telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.
Sungguh sangat mengharukan. Sebuah Cerita Sedih yang amat sangat menyentuh hati. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dibalik Kisah Cinta Andre dan Sherly tersebut, yang merupakan Cerita Cinta Anak Remaja yang Sangat menyedihkan dan mengharukan.
Dari Cerita sedih dan mengharukan yang dikisahkan oleh Andre dan Sherly, dapat di ambil kesimpulan bahwa “Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita”.